A. Globalisasi
dan Agama
Globalisasi diartikan sebagai proses
yang menghasilkan dunia tunggal. Masyarakat di seluruh dunia menjadi saling
tergantung disemua aspek kehidupan: politk, ekonomi, sosial dan budaya. Cakupan
kesaling ketergantungan ini benar-benar mengglobal.
Globalisasi merupakan
fenomena yang menunjuk pada meleburnya bata-batas geografis negara, terutama
dari sisi kultural. Suatu negara bisa menjadi tidak dapat lagi dibendung berkat
kemajuan teknologi. Globalisasi meliputi hampir semua aspek kehidupan ekonomi,
politik, sosial, dan budaya. Peristiwa yang terjadi di suatu tempat tertentu
dapat dengan mudah menjadi peristiwa global. Demikian pula persoalan yang
dihadapi suatu komunitas tertentu dapat pula segera “menguras” emosi global dan
menjadi perhatian kalangan luas. Budaya yang berkembang disuatu wilayah
tertentu dengan mudah menjadi budaya global berkat kemajuan teknologi komunikasi
dan informasi. Metafora yang sering digunakan untuk menggambarkan situasi ini
ialah “kampung dunia” (global Village).
Metafora ini untuk menggambarkan seolah-olah seluruh dunia menyatu dan tidak
lagi terkendala dimensi ruang dan waktu.
Dalam survivalitas suatu masyarakat sangat
tergantung pada kemampuannya untuk menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan milleu yang mengalami perubahan cepat.
Negara yang mampu menyesuaikan diri dengan baik, maka dapat bertahan bahkan
dapat menjadi pemenang, sebaliknya Negara yang gagal dalam hal ini maka ia akan
menjadi korban dan terlindas zaman. Penyebaran ekonomi pasar keseluruh dunia
mendorong terciptanya persaingan yang tidak mengenal belas kasihan. Fenomena
ini sering disebut dengan sistim kapitalisme. Aturan main kapitalisme mengatur
dunia, aturan yang menuntut kemampuan adaptif dalam merespons perubahan
teknologi,permintaan baru, penyebaran pasar, dan variasi-variasi dan tingkat
sirkulasi capital. Akan tetapi, aturan itu bagaimanapun juga tidak pernah
mengubah basis aturan yang berkaitan dengan penawaran , biaya, dan harga.
Munculnya kapitalisme
sebagai paham ekonomi di negara-negara Eropa Barat, sangat dipengaruhi oleh
Revolusi Prancis, Revolusi Industri di Eropa, serta reaksi yang bercorak
antroposentristik terhadap lembaga-lembaga mapan, baik itu feodalisme, merkantilisme
maupun teokrasi yang dirasakan mengekang. Semuanya ikut serta meletakkan
dasar-dasar untuk perkembangan kapitalisme modern. Dasar terpenting adalah
pembebasan hak milik dari segala ikatan sosial dan sublimasinya sebagai suatu
hak alamiah, bahkan hak suci, dan selanjutnya manusia bebas dari ikatan
penghambaan. Penguasaan tanah oleh kaum bangsawan, dihapuskan; semua pengusaha
bebas untuk bersaing. Segala peraturan pemerintah yang mengikut sertakannya
dalam bidang ekonomi, dihapuskan, dengan semboyan liberalisme: “Biarlah orang
berbuat, biarlah semua berlaku dengan sendirinya, karena dunia berputar pula
dengan sendirinya”. Sejajar dengan peubahan-perubahan tersebut, berkembanglah
individulisme sebagai semangat, filsafat, serta gaya hidup baru, yang
menyublimasikan perlombaan untuk menjadi rasionalisme dan menjadi
pembenarannya.
Dampak globalisasi
terhadap praktik agama merupakan salah satu isu yang menjadi kajian sosiologi
agama selain isu-isu lain, seperti sekulerisasi, ideologi, solidaritas,
identitas, dan diversitas agama. Isu-isu tersebut menjadi bagian dari dua tema
sentral sosiologi agama, yaki peran dan arti penting agama/kepercayaan serta
praktik agama pada komunitas atau kelompok tertentu dimasyarakat. Terdapat
kaitan erat antara globalisasi dan agama. Dalam hal ini menurut Beyer, isu
mengenai globalisasi beriringan dengan munculnya kesadaran mengenai posisi dan
peran agama. Istilah
globalisasi itu sendiri baru dikenal dalam perdebatan ilmiah sejak dekade
1980-an. Globalisasi sering dikaitkan dengan sekulerisasi, tetapi sebenarnya
semakin sulit untuk menilai apakah sekulerisai benar-benar merupakan fenomena
yang terjadi saat ini atau merupakan “masa depan” agama. Berkembangnya
fundamentalisme, misalnya, mengindikasikan bahwa agama tidak pernah mengalami
penurunan atau kemunduran sebagaimana diperkirakan banyak orang. Justru saat
ini berkembang kecenderungan para ahli untuk mencermati diversitas agama yang
sebagian merupakan implikasi langsung migrasi trans nasional.
Dalam perspektif
global, jika dibandingkan dengan domain institusional lain, agama modern tampak
merupakan institusi yang ganjil atau tidak biasa karena sangat kompetitif dan
cepat berubah. Agama merupakan institusi yang berada dalam kondisi ketidak
pastian. Agama merupakan sistim institusi global yang lebih lekat daripada
institusi lain yang non agama. Jika dibandingkan institusi ekonomidan politik,
agama merupakan institusi yang powerfull.
Krisis yang terjadi pada institusi ekonomi dan politik menyebabkan terjadi
banyak gangguan, bahkan social chaos. Sementara
kelemahan dan kekuatan institusi agama di berbagai tempat tidak menimbulkan
kekuatan serius. Meskipun demikian ketiga institusi tersebut berada dalam
posisi saling ketergantungan. Buktinya ekonomi kapitalis tidak dapat bekerja
tanpa sistem hukum dan negara yang sah. Ketiganya bergantung pada sistem
pendidikan bagi pengembangan profesional dan keahlian dan sistem media masa
untuk marketing produk, memopulerkan ilmu pengetahuan ilmiah dan dakwah agama.
Harun Nasution menjelaskan agama sebagai:
1.
Pengakuan terhadap
adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi.
2.
Pengakuan terhadap
adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
3.
Mengikatkan diri pada
satu bentuk hidup yang mengandung pada suatu sumber yang berada diluar diri
manusia dan mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
4.
Kepercayaan pada suatu
benda ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5.
Suatu system tingkah
laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan ghaib.
6.
Pengakuan terhadap
adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan ghaib.
7.
Pemujaan terhadap
kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap
kekuatan misteri yang terdapat dalam alam disekitar manusia.
8.
Ajaran-ajaran yang
diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rosul.
Koentjaraningrat menyebut aspek kehidupan beragama dengan komponen religi.
Menurut Koentjaraningrat ada lima komponen religi;
·
Emosi Keagamaan
·
Sistem
Keyakinan
·
Sistem Ritus
dan Upacara
·
Peralatan Ritus
dan Upacara
·
Umat Beragama
Definisi agama sangat
banyak penafsiran di Era Globalisasi, karena banyaknya informasi yang kita
dapat dan tidak sedikit masyarakat yang terbiasa mengetahui ajaran dengan tatap
muka baik secara formal, informal maupun nonformal yang memiliki makna
sendiri-sendiri dan tergantung dengan apa yang diyakininya. Globalisasi tidak
dapat dipisahkan dengan hal yang baru dan bersifat kebaratan, serta dianggap
rasional karena dibuktikan dengan metode yang disepakati bersama
merupakan alat pergeseran makna nilai-nilai agama dalam arus globalisasi.
B.
Implementasi Pemaknaan
Agama Dalam Masyarakat di Era
Globalisasi
1.
Agama Kristen
(Protestan dan Katolik)
Globalisasi menyebabkan pergeseran
nilai-nilai yang di doktrin oleh agama mulai muncul secara bertahap. Contohnya
dilingkungan keluarga sorang Peran Agama Dalam Era Globalisasi dan Modernitas
serta dengan Ketahanan dan Peranan Keluarga: Sudut Pandang Agama Kristen yang
diteliti oleh Dr. Alex Peat menjelaskan bahwa adanya beberapa hal yang terjadi
yaitu goncangnya lembaga perkawinan, meluruhnya cinta suami istri, factor
penghambat luar keluarga. Ini sungguh jelas sekali bahwa agama tidak mampu
membendung kelakuan moral dan menjunjung nilai agama. Penyebabnya adalah
masuknya pandangan-pandangan ideologi agama yang sesuai dengan perkembangan
zaman.
2. Agama Islam
Islam juga memiliki wadah untuk
tempat memperdalam ilmu yaitu pesantren. Dulu pesantren sangat kental dengan
agama Islam, tetapi sekarang seiring dengan adanya globalisasi, Pesantren mulai
memasukkan mata kuliah umum. Dengan kemajuan teknologi akibat adanya
globalisasi, Pesantren juga berkembang agar bisa diterima masyarakat luas.
Dengan adanya lembaga itu, diharapkan dapat mencetak karakter santri untuk
mendapatkan keduanya yaitu kuat agamanya dan mengikuti kemajuan teknologi. Kegagalan
dalam pesantren apabila nilai agamanya tidak berkembang cepat dengan ilmu
sainsnya, maka pembentukan moral yang sesuai dengan ajaran agama tentunya akan
didominasi oleh ajaran sains yang yerkadang tidak sesuai dengan ajaran agama
yang dianut khususnya nilai-nilai dalam agama Islam.
3.
Agama Hindu
Agama Hindhu memiliki tingkatan
dalam hidupnya dan digolongkan menurut jenis pekerjaan atau dikenal dengan
sistem kasta. Dulu sistem kasta sangat kuat dipegang teguh oleh umat Hindhu,
tetapi dengan munculnya globalisasi yang membawa modernitas, sistem kasta mulai
ada kelonggaran dalam pembatasan tingkatan. Contoh lainnya adalah tempat peribadatan
yang digunakan umat Hindhu, mulai kehilangan tempat kesakralannya dikarenakan
banyak tempat peribadatan dijadikan tempat wisata, sehingga mengurangi
nilai-nilai dalam agama.
4.
Agama Budha
Agama ini mengajarkan bahwa
seseorang harus menemukan pengertian tentang kehidupan mesti tak dapat diungkapkan
dengan kata-kata. Seorang Rahib dapat menghabiskan seluruh waktu hidupnya untu
meditasi. Tetapi terjadi pergeseran akibat adanya Globalisasi yang terjadi juga dalam agama Budha yaitu
pergeseran nilai kebenaran. Dimana norma dan nilai-nilai mulai dilanggar dan
tidak mengidahkan aturan yang berlaku.
C. Peranan
dan Tantangan Agama dalam Sains dan Teknologi
Hubungan antara agama dan sains dalam
sejarah peradaban manusia sangatlah erat. Hubungan ini sangat penting karena
peradaban umat manusia tidak lepas dari pergumulan berbagai nilai agama dan
sain. Setiap ada penemuan baru tentang sains banyak mayoritas umat beragama
mengalami gejolak karena belum memiliki perangkat baru untuk menyesuaikan diri
dengan penemuan tersebut, sementara itu perangkat dan nilai-nilai lama belum
siap berubah. Benturan yang terjadi antara nilai-nilai yang baru akibat
globalisasi dengan nilai-nilai lama tentu saja akan menimbulkan kebingungan
dimasyarakat dan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kemajuan teknologi komunikasi sekali
lagi memungkinkan terjadinya perubahan sosial., Menurut Turner, Globalisasi dan
penyebaran penggunaan internet merupakan aspek penting perubahan sosial yang
mentransformasikan agama melalui cara yang tidak dikenal sebelumnya. Otoritas setiap pesan agama atau apapun secara langsung dapat dinegosiasikan.
Pertumbuhan perbedaan interpretasi dalam satu sistem komunikasi global menghasilkan krisis otorasi paling
tidak formal kepercayaan
dan praktik agama.
Agama tetap memiliki peran penting dalam
konteks dunia yang semakin mengglobal, bahkan ditengah gempuran sekularisasi
yang merupakan dampak negatif
globalisasi terhadap agama yang merebak di hampir seluruh wilayah
dunia. Globalisasi mempertanyakan
identitas masyarakat dan individu yang dapat membawa ke perbedaan publik,
tradisi agama menjadi sunber penuh bagi tatanan dunia yang diidealkan. Dalam
merespon goncangan perubahan global, banyak kelompok agama dan gerakan agama
kembali ke landasan awal atau dasar sebagai suatu cara cara kembali ke akar
budaya agama untuk membentuk tatanan dunia. Meskipun agama tidak menentukan
arah globalisasi, agama membantu definisi mengenai situasi global. Globalisasi
tak pelak mengubah fitur dan sosok agama akibat mencakup proses yang
menyertainya.
Gejolak antara sains dan agama
terjadi pada era renaisans. Gereja pada masa pertengahan sangat berkuasa dan
dominan, tidak saja dalam lapangan agama, tetapi juga dalam lapangan ilmiah.
Tradisi ilmiah yang sebenarnya tidak baku dan statis menjadi sakral dan tidak
boleh diubah. Oleh karena itu, ketika Nicolaus Copernicus dan Galileo menemukan
teori bahwa bumi itu pusat jagad raya, tetapi mataharilah yang merupakan pusat
jagad raya, kalangan gereja sangat marah karena teori tersebut bertentangan
dengan doktrin “ilmiah” gereja. Ketegangan ini rupanya merupakan cikal bakal
sekulerisme di Barat. Agamawan berjalan menurut kebenaran dan doktrin gereja,
sedangkan ilmuwan berjalan sesuai dengan struktur dan ukuran rasional empiris.
Akibatnya antara agama dan ilmu tidak akan bersinggungan, sehingga sains di
Barat menjauh dari agama. Dari sini muncul semboyan sains, atau sains yang
bebas nilai. Menurut Harun Nasution, pemakaian sains tidak dikontrol oleh
agama. Sains dikembangkan demi sains tanpa mengindahkan kerusakan yang
dibawanya kemasyarakat, menurut para saintis, bukanlah urusan mereka, tetapi
itu adalah masalah kaum agama dan moralis. Padahal kaum agama dan moralis di
Barat boleh dikatakan tidak ada pengaruhnya lagi. Seiring dengan kemajuan sains
dan teknologi di Barat, nilai-nilai agama secara berangsur-angsur juga bergeser
bahkan berseberangan dengan ilmu. Bagi sebagian ilmuan di Barat agama di anggap
penghalang kemajuan. Mereka beranggapan, jika ingin maju, agama tidak boleh
lagi mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan dengan dunia, seprti politik dan sains. Para
pemikir dan saintis sering mengemukakan nada minor terhadap agama, baik pada
awal munculnya era industrialisasi maupun pada dekade belakangan ini. Karl Marx
terkenal dengan pernyataanya bahwa agama adalah candu masyarakat. August Comte
menyatakan bahwa agama hanya cocok untuk masyarakat yang masih primitif dan
terbelakang. Sekarang, menurut Comte, adalah era positivisme, yang semua
kejadian dapat diukur dan diterangkan dengan rasional. Bahkan para saintis
suatu saat berpendapat bahwa pencarian untuk menemukan ‘kebenaran’ akan membawa
suatu kecenderungan utama untuk menyembah sains ketimbang agama. Kecenderungan
ini memuncak pada filsafat sekuler ‘Tuhan sudah mati’ yang diungkapkan oleh
teolog radikal Thomas J.J Altizer di tahun 1960 dan 1970-an. Sekarang, dengan
pandangan milenium, kekuatan kecenderungan berbalik, menuju kebangkitan agama
dan menyangkal kepercayaan yang buta terhadap sains dan teknologi.
Menurut B.R Wilson, agama terlibat
sedikit dalam masyarakat. Namun, dia mengakui terlalu pagi untuk mengatakan
bahwa masyarakat modern dapat berfungsi tanpa agama. Sementara itu, Sultan
Takdir Alisjahbana, berpendapat bahwa dalam era globalisasi dan informasi yang
semakin terbuka, agama dapat memerankan diri dalam bidang moral dan etika, sebab agama selalu mengaitkan segala aktivitas mansia kepada keadaan
kekudusan Tuhan dan memberikan kepadanya perasaan kekecilan dan penyerahan.
Menurut harun Nasuition, Agama dan sains mengahdapi persoalan yang cukup rumit
ketika berhadapan dengan situasi dimana perkembangan zaman berjalan begitu
cepat. Satu sisi sins di Barat berkembang dengan pesatnya, tetapi jauh dari
jiwa agama, sehingga yang terjadi adalah sains yang sekuler. Sebaliknya, di Timur
masyarakatnya taat beribadah, tetapi lemah moralnya, sehingga muncul bentuk
‘sekulerisasi’ juga dalam umat beragama. Harun Nasution memberikan alternatif
untuk mangatasi persoalan tersebut. Pertama,
menyesuaikan filsafat dan sains sekuler dengan ajaran dasar agama, sehingga
yang berkembang di dunia bukan filsafat dan sains yang sekuler, tetapi filsafat
dan sains yang agamis. Kedua,
mengutamakan pendidikan moral umat beragama, di samping pengajaran ibadat dan
syariat, sehingga tercitalah umat yang berakhlak mulia.
DAFTAR
PUSTAKA
Sztompka, Piotr. 2005. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta:
Prenada.
Haryanto, Sindung. 2015. Sosiologi Agama Dari Klasik Hingga Post Modern. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Kahmad, Dadang. 2009. Sosiologi Agama. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
http://tantridilogi10.blogspot.com.in/2013/agama-dan-globalisasi23.hmtl
diakses pada tanggal 05 april 2015 pukul 12.30 WIB