Selasa, 22 September 2015

Agama dan Globalisasi


A.    Globalisasi dan Agama
Globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal. Masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung disemua aspek kehidupan: politk, ekonomi, sosial dan budaya. Cakupan kesaling ketergantungan ini benar-benar mengglobal.
Globalisasi merupakan fenomena yang menunjuk pada meleburnya bata-batas geografis negara, terutama dari sisi kultural. Suatu negara bisa menjadi tidak dapat lagi dibendung berkat kemajuan teknologi. Globalisasi meliputi hampir semua aspek kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Peristiwa yang terjadi di suatu tempat tertentu dapat dengan mudah menjadi peristiwa global. Demikian pula persoalan yang dihadapi suatu komunitas tertentu dapat pula segera “menguras” emosi global dan menjadi perhatian kalangan luas. Budaya yang berkembang disuatu wilayah tertentu dengan mudah menjadi budaya global berkat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Metafora yang sering digunakan untuk menggambarkan situasi ini ialah “kampung dunia” (global Village). Metafora ini untuk menggambarkan seolah-olah seluruh dunia menyatu dan tidak lagi terkendala dimensi ruang dan waktu.
Dalam survivalitas suatu masyarakat sangat tergantung pada kemampuannya untuk menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan milleu yang mengalami perubahan cepat. Negara yang mampu menyesuaikan diri dengan baik, maka dapat bertahan bahkan dapat menjadi pemenang, sebaliknya Negara yang gagal dalam hal ini maka ia akan menjadi korban dan terlindas zaman. Penyebaran ekonomi pasar keseluruh dunia mendorong terciptanya persaingan yang tidak mengenal belas kasihan. Fenomena ini sering disebut dengan sistim kapitalisme. Aturan main kapitalisme mengatur dunia, aturan yang menuntut kemampuan adaptif dalam merespons perubahan teknologi,permintaan baru, penyebaran pasar, dan variasi-variasi dan tingkat sirkulasi capital. Akan tetapi, aturan itu bagaimanapun juga tidak pernah mengubah basis aturan yang berkaitan dengan penawaran , biaya, dan harga.
Munculnya kapitalisme sebagai paham ekonomi di negara-negara Eropa Barat, sangat dipengaruhi oleh Revolusi Prancis, Revolusi Industri di Eropa, serta reaksi yang bercorak antroposentristik terhadap lembaga-lembaga mapan, baik itu feodalisme, merkantilisme maupun teokrasi yang dirasakan mengekang. Semuanya ikut serta meletakkan dasar-dasar untuk perkembangan kapitalisme modern. Dasar terpenting adalah pembebasan hak milik dari segala ikatan sosial dan sublimasinya sebagai suatu hak alamiah, bahkan hak suci, dan selanjutnya manusia bebas dari ikatan penghambaan. Penguasaan tanah oleh kaum bangsawan, dihapuskan; semua pengusaha bebas untuk bersaing. Segala peraturan pemerintah yang mengikut sertakannya dalam bidang ekonomi, dihapuskan, dengan semboyan liberalisme: “Biarlah orang berbuat, biarlah semua berlaku dengan sendirinya, karena dunia berputar pula dengan sendirinya”. Sejajar dengan peubahan-perubahan tersebut, berkembanglah individulisme sebagai semangat, filsafat, serta gaya hidup baru, yang menyublimasikan perlombaan untuk menjadi rasionalisme dan menjadi pembenarannya.
Dampak globalisasi terhadap praktik agama merupakan salah satu isu yang menjadi kajian sosiologi agama selain isu-isu lain, seperti sekulerisasi, ideologi, solidaritas, identitas, dan diversitas agama. Isu-isu tersebut menjadi bagian dari dua tema sentral sosiologi agama, yaki peran dan arti penting agama/kepercayaan serta praktik agama pada komunitas atau kelompok tertentu dimasyarakat. Terdapat kaitan erat antara globalisasi dan agama. Dalam hal ini menurut Beyer, isu mengenai globalisasi beriringan dengan munculnya kesadaran mengenai posisi dan peran agama. Istilah globalisasi itu sendiri baru dikenal dalam perdebatan ilmiah sejak dekade 1980-an. Globalisasi sering dikaitkan dengan sekulerisasi, tetapi sebenarnya semakin sulit untuk menilai apakah sekulerisai benar-benar merupakan fenomena yang terjadi saat ini atau merupakan “masa depan” agama. Berkembangnya fundamentalisme, misalnya, mengindikasikan bahwa agama tidak pernah mengalami penurunan atau kemunduran sebagaimana diperkirakan banyak orang. Justru saat ini berkembang kecenderungan para ahli untuk mencermati diversitas agama yang sebagian merupakan implikasi langsung migrasi trans nasional.
Dalam perspektif global, jika dibandingkan dengan domain institusional lain, agama modern tampak merupakan institusi yang ganjil atau tidak biasa karena sangat kompetitif dan cepat berubah. Agama merupakan institusi yang berada dalam kondisi ketidak pastian. Agama merupakan sistim institusi global yang lebih lekat daripada institusi lain yang non agama. Jika dibandingkan institusi ekonomidan politik, agama merupakan institusi yang powerfull. Krisis yang terjadi pada institusi ekonomi dan politik menyebabkan terjadi banyak gangguan, bahkan social chaos. Sementara kelemahan dan kekuatan institusi agama di berbagai tempat tidak menimbulkan kekuatan serius. Meskipun demikian ketiga institusi tersebut berada dalam posisi saling ketergantungan. Buktinya ekonomi kapitalis tidak dapat bekerja tanpa sistem hukum dan negara yang sah. Ketiganya bergantung pada sistem pendidikan bagi pengembangan profesional dan keahlian dan sistem media masa untuk marketing produk, memopulerkan ilmu pengetahuan ilmiah dan dakwah agama.
             Harun Nasution menjelaskan agama sebagai:
1.      Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi.
2.      Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
3.      Mengikatkan diri pada satu bentuk hidup yang mengandung pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia dan mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
4.      Kepercayaan pada suatu benda ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5.      Suatu system tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan ghaib.
6.      Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan ghaib.
7.      Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misteri yang terdapat dalam alam disekitar manusia.
8.      Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rosul.
            Koentjaraningrat menyebut aspek kehidupan beragama dengan komponen religi. Menurut Koentjaraningrat ada lima komponen religi;
·         Emosi Keagamaan
·         Sistem Keyakinan
·         Sistem Ritus dan Upacara
·         Peralatan Ritus dan Upacara
·         Umat Beragama
Definisi agama sangat banyak penafsiran di Era Globalisasi, karena banyaknya informasi yang kita dapat dan tidak sedikit masyarakat yang terbiasa mengetahui ajaran dengan tatap muka baik secara formal, informal maupun nonformal yang memiliki makna sendiri-sendiri dan tergantung dengan apa yang diyakininya. Globalisasi tidak dapat dipisahkan dengan hal yang baru dan bersifat kebaratan, serta dianggap rasional karena dibuktikan dengan metode yang disepakati bersama merupakan alat pergeseran makna nilai-nilai agama dalam arus globalisasi.

B.     Implementasi Pemaknaan Agama Dalam Masyarakat  di Era Globalisasi
1.         Agama Kristen (Protestan dan Katolik)
            Globalisasi menyebabkan pergeseran nilai-nilai yang di doktrin oleh agama mulai muncul secara bertahap. Contohnya dilingkungan keluarga sorang Peran Agama Dalam Era Globalisasi dan Modernitas serta dengan Ketahanan dan Peranan Keluarga: Sudut Pandang Agama Kristen yang diteliti oleh Dr. Alex Peat menjelaskan bahwa adanya beberapa hal yang terjadi yaitu goncangnya lembaga perkawinan, meluruhnya cinta suami istri, factor penghambat luar keluarga. Ini sungguh jelas sekali bahwa agama tidak mampu membendung kelakuan moral dan menjunjung nilai agama. Penyebabnya adalah masuknya pandangan-pandangan ideologi agama yang sesuai dengan perkembangan zaman.
2.      Agama Islam
Islam juga memiliki wadah untuk tempat memperdalam ilmu yaitu pesantren. Dulu pesantren sangat kental dengan agama Islam, tetapi sekarang seiring dengan adanya globalisasi, Pesantren mulai memasukkan mata kuliah umum. Dengan kemajuan teknologi akibat adanya globalisasi, Pesantren juga berkembang agar bisa diterima masyarakat luas. Dengan adanya lembaga itu, diharapkan dapat mencetak karakter santri untuk mendapatkan keduanya yaitu kuat agamanya dan mengikuti kemajuan teknologi. Kegagalan dalam pesantren apabila nilai agamanya tidak berkembang cepat dengan ilmu sainsnya, maka pembentukan moral yang sesuai dengan ajaran agama tentunya akan didominasi oleh ajaran sains yang yerkadang tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianut khususnya nilai-nilai dalam agama Islam.
3.                              Agama Hindu
Agama Hindhu memiliki tingkatan dalam hidupnya dan digolongkan menurut jenis pekerjaan atau dikenal dengan sistem kasta. Dulu sistem kasta sangat kuat dipegang teguh oleh umat Hindhu, tetapi dengan munculnya globalisasi yang membawa modernitas, sistem kasta mulai ada kelonggaran dalam pembatasan tingkatan. Contoh lainnya adalah tempat peribadatan yang digunakan umat Hindhu, mulai kehilangan tempat kesakralannya dikarenakan banyak tempat peribadatan dijadikan tempat wisata, sehingga mengurangi nilai-nilai dalam agama.
4.                              Agama Budha
Agama ini mengajarkan bahwa seseorang harus menemukan pengertian tentang kehidupan mesti tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seorang Rahib dapat menghabiskan seluruh waktu hidupnya untu meditasi. Tetapi terjadi pergeseran akibat adanya Globalisasi  yang terjadi juga dalam agama Budha yaitu pergeseran nilai kebenaran. Dimana norma dan nilai-nilai mulai dilanggar dan tidak mengidahkan aturan yang berlaku.

C.     Peranan dan Tantangan Agama dalam Sains dan Teknologi 
Hubungan antara agama dan sains dalam sejarah peradaban manusia sangatlah erat. Hubungan ini sangat penting karena peradaban umat manusia tidak lepas dari pergumulan berbagai nilai agama dan sain. Setiap ada penemuan baru tentang sains banyak mayoritas umat beragama mengalami gejolak karena belum memiliki perangkat baru untuk menyesuaikan diri dengan penemuan tersebut, sementara itu perangkat dan nilai-nilai lama belum siap berubah. Benturan yang terjadi antara nilai-nilai yang baru akibat globalisasi dengan nilai-nilai lama tentu saja akan menimbulkan kebingungan dimasyarakat dan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kemajuan teknologi komunikasi sekali lagi memungkinkan terjadinya perubahan sosial., Menurut Turner, Globalisasi dan penyebaran penggunaan internet merupakan aspek penting perubahan sosial yang mentransformasikan agama melalui cara yang tidak dikenal sebelumnya. Otoritas setiap pesan agama atau apapun secara langsung dapat dinegosiasikan. Pertumbuhan perbedaan interpretasi dalam satu sistem komunikasi  global menghasilkan krisis otorasi paling tidak  formal  kepercayaan  dan praktik agama.
Agama tetap memiliki peran penting dalam konteks dunia yang semakin mengglobal, bahkan ditengah gempuran sekularisasi yang merupakan dampak negatif  globalisasi terhadap agama yang merebak di hampir seluruh wilayah dunia.  Globalisasi mempertanyakan identitas masyarakat dan individu yang dapat membawa ke perbedaan publik, tradisi agama menjadi sunber penuh bagi tatanan dunia yang diidealkan. Dalam merespon goncangan perubahan global, banyak kelompok agama dan gerakan agama kembali ke landasan awal atau dasar sebagai suatu cara cara kembali ke akar budaya agama untuk membentuk tatanan dunia. Meskipun agama tidak menentukan arah globalisasi, agama membantu definisi mengenai situasi global. Globalisasi tak pelak mengubah fitur dan sosok agama akibat mencakup proses yang menyertainya.
Gejolak antara sains dan agama terjadi pada era renaisans. Gereja pada masa pertengahan sangat berkuasa dan dominan, tidak saja dalam lapangan agama, tetapi juga dalam lapangan ilmiah. Tradisi ilmiah yang sebenarnya tidak baku dan statis menjadi sakral dan tidak boleh diubah. Oleh karena itu, ketika Nicolaus Copernicus dan Galileo menemukan teori bahwa bumi itu pusat jagad raya, tetapi mataharilah yang merupakan pusat jagad raya, kalangan gereja sangat marah karena teori tersebut bertentangan dengan doktrin “ilmiah” gereja. Ketegangan ini rupanya merupakan cikal bakal sekulerisme di Barat. Agamawan berjalan menurut kebenaran dan doktrin gereja, sedangkan ilmuwan berjalan sesuai dengan struktur dan ukuran rasional empiris. Akibatnya antara agama dan ilmu tidak akan bersinggungan, sehingga sains di Barat menjauh dari agama. Dari sini muncul semboyan sains, atau sains yang bebas nilai. Menurut Harun Nasution, pemakaian sains tidak dikontrol oleh agama. Sains dikembangkan demi sains tanpa mengindahkan kerusakan yang dibawanya kemasyarakat, menurut para saintis, bukanlah urusan mereka, tetapi itu adalah masalah kaum agama dan moralis. Padahal kaum agama dan moralis di Barat boleh dikatakan tidak ada pengaruhnya lagi. Seiring dengan kemajuan sains dan teknologi di Barat, nilai-nilai agama secara berangsur-angsur juga bergeser bahkan berseberangan dengan ilmu. Bagi sebagian ilmuan di Barat agama di anggap penghalang kemajuan. Mereka beranggapan, jika ingin maju, agama tidak boleh lagi mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan dengan dunia, seprti politik dan sains. Para pemikir dan saintis sering mengemukakan nada minor terhadap agama, baik pada awal munculnya era industrialisasi maupun pada dekade belakangan ini. Karl Marx terkenal dengan pernyataanya bahwa agama adalah candu masyarakat. August Comte menyatakan bahwa agama hanya cocok untuk masyarakat yang masih primitif dan terbelakang. Sekarang, menurut Comte, adalah era positivisme, yang semua kejadian dapat diukur dan diterangkan dengan rasional. Bahkan para saintis suatu saat berpendapat bahwa pencarian untuk menemukan ‘kebenaran’ akan membawa suatu kecenderungan utama untuk menyembah sains ketimbang agama. Kecenderungan ini memuncak pada filsafat sekuler ‘Tuhan sudah mati’ yang diungkapkan oleh teolog radikal Thomas J.J Altizer di tahun 1960 dan 1970-an. Sekarang, dengan pandangan milenium, kekuatan kecenderungan berbalik, menuju kebangkitan agama dan menyangkal kepercayaan yang buta terhadap sains dan teknologi.
Menurut B.R Wilson, agama terlibat sedikit dalam masyarakat. Namun, dia mengakui terlalu pagi untuk mengatakan bahwa masyarakat modern dapat berfungsi tanpa agama. Sementara itu, Sultan Takdir Alisjahbana, berpendapat bahwa dalam era globalisasi dan informasi yang semakin terbuka, agama dapat memerankan diri dalam bidang moral dan etika, sebab agama selalu mengaitkan segala aktivitas mansia kepada keadaan kekudusan Tuhan dan memberikan kepadanya perasaan kekecilan dan penyerahan. Menurut harun Nasuition, Agama dan sains mengahdapi persoalan yang cukup rumit ketika berhadapan dengan situasi dimana perkembangan zaman berjalan begitu cepat. Satu sisi sins di Barat berkembang dengan pesatnya, tetapi jauh dari jiwa agama, sehingga yang terjadi adalah sains yang sekuler. Sebaliknya, di Timur masyarakatnya taat beribadah, tetapi lemah moralnya, sehingga muncul bentuk ‘sekulerisasi’ juga dalam umat beragama. Harun Nasution memberikan alternatif untuk mangatasi persoalan tersebut. Pertama, menyesuaikan filsafat dan sains sekuler dengan ajaran dasar agama, sehingga yang berkembang di dunia bukan filsafat dan sains yang sekuler, tetapi filsafat dan sains yang agamis. Kedua, mengutamakan pendidikan moral umat beragama, di samping pengajaran ibadat dan syariat, sehingga tercitalah umat yang berakhlak mulia.



DAFTAR PUSTAKA

Sztompka, Piotr. 2005. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada.
Haryanto, Sindung. 2015. Sosiologi Agama Dari Klasik Hingga Post Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Kahmad, Dadang. 2009. Sosiologi Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
http://tantridilogi10.blogspot.com.in/2013/agama-dan-globalisasi23.hmtl diakses pada tanggal 05 april 2015 pukul 12.30 WIB